Batasan Dalam Candaan

Bercanda atau bersenda gurau adalah salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Ia terkadang diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban, namun tentunya bila disajikan dengan bagus sesuai porsinya dan melihat kondisi yang ada. Sebab, setiap tempat dan suasana memang ada bahasa yang tepat untuk diutarakan.

 

Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasan-batasan syariat. Sebab, Islam tidak melarang sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh manusia sebagaimana Islam melarang hal-hal yang membahayakan dan tidak diperlukan oleh manusia.

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai.” (Shahih al-Bukhari, Kitabul Adab)

Agar bercanda tidak melebihi dari batasannya maka perhatikan beberapa hal berikut :

  • Agar tidak berdusta. Rasulullah SAW bersabda, “Celaka bagi orang yang becerita kemudia ia berdusta agar manusia tertawa, celaka baginya, celaka baginya.” (H.R. Ahmad). Rasulullah jika bercanda selalu berkata jujur.
  • Tidak mengandung cacian dan makian terhadap pihak lain kecuali jika ia meridhai. Allah SWT berfirman, “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan).” (QS Al-Hujuraat: 11)
  • Canda tidak membuat takut dan panik. Abdurrahman bin Abu Ya’la berkata, “Sahabat Rasulullah SAW menceritakan kepada kami : Ketika mereka dalam perjalanan bersama Rasulullah SAW, seseorang diantara mereka berdiri, sebagian sahabat menuju bukit bersamanya dan mengagetkannya, ia menjadi panik, maka Rasulullah bersabda: tidak halal bagi seorang muslim untuk menakuti saudaranya sesama muslim.”(H.R. Ahmad)
  • Canda dan gurau pada tempatnya, tidak bergurau dan bercanda dalam situasi yang serius, tidak tertawa dalam kondisi yang mengundang kesedihan.
  • Canda dan tawa sewajarnya, batasan wajar yang diterima fitrah dan hati yang sehat, canda yang bisa memberikan dampak positif dan semangat beramal, serta tidak mengenyampingkan hak-hak Allah SWT dan mahluk.

 

Suatu ketika Rasulullah bergurau dengan seorang perempuan tua renta yang meminta didoakan agar masuk surga. Maka Rasulullah SAW berkata: “Wahai ibu, surga tidak akan dimasuki oleh orang tua renta.” Maka perempuan itupun menangis karena memahami perkataan rasulullah secara zahir (tekstual), maka rasulullah memahamkan kepadanya bahwa memang di surga nanti tidak ada orang tua renta, karena semuanya adalah orang-orang muda. Beliau membacakan firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS. Al-Waqiah: 35-37). (H.R. At-Thabrani).

Pada akhirnya marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi taufik dan bimbingan-Nya untuk selalu lurus dalam berbuat dan berkata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *